Jika sekarang berdemo karena BBM naik, pasti sudah basi. Kenapa basi? Karena BBM-nya sendiri sudah diputuskan naik 44 % dari harga biasanya beberapa pekan lalu. Yang namanya berdemo itu sebelum suatu wacana diputuskan, jika berdemo setelah wacana diputuskan, lucu namanya itu. Ia bukan mau demo, tapi mau mengeluh. Karena tulisan ini bukan untuk menyuruh demo BBM naik, jadi tulisanku ini tidak akan basi. J silahkan lanjutkan.
DE-MO. Jika kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti demo adalah sebuah kendaraan beroda 3 mirip bemo. Demo. (hah?) Itu berarti kata yang kita maksud disini bukan demo, tapi Demonstrasi yang menurut KBBI adalah [n] (1) pernyataan protes yang dikemukakan secara masal; unjuk rasa; mereka berbondong-bondong mengadakan- - menentang percobaan nuklir; (2) peragaan atau pertunjukkan tata cara melakukan atau mengerjakan sesuatu; -pencak silat perlu diadakan guna memperoleh bibit-bibit pesilat yang baik. Namun mungkin karena kata Demonstrasi terlalu panjang untuk diucapkan, hingga kata Demo yang lebih singkatlah yang mewakili arti Demonstrasi yang berkembang di masyarakat luas. Meski jika diusut dari artinya, perwakilan kata Demo atas Demonstrasi jauh sekali. Tapi karena sudah terlanjur terwakili, ya sudah kita gunakan kata Demo saja untuk mewakili arti Demonstrasi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pengertian kalimat “Demo BBM naik” berarti pernyataan protes yang dikemukakan secara masal tentang kenaikan BBM.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa yang namanya demo itu pasti dilakukan sebelum suatu wacana diputuskan. Itu berarti bisa ditarik kesimpulan bahwa Demo adalah suatu pernyataan protes yang dikemukakan secara masal, dilakukan sebelum suatu wacana ditetapkan atau diputuskan, dan ditujukan sebagai bahan pertimbangan atas keputusan tersebut. Namun dewasa ini, orang-orang berdemo cenderung melupakan tujuan dari berdemo itu sendiri (bahan pertimbangan keputusan), hingga mereka berdemo secara anarki. Dan hampir sudah menjadi hal yang lumrah demo anarki terjadi di tiap daerah. Bahkan ada sebagian orang, ketika disebut kata demo, yang terbayang adalah aksi protes anarki. Termasuk saya. Minimalnya demo itu membakar ban di jalan, menghambat laju lalu lintas, merusak sarana, mengotori jalan dengan sampah-sampah yang tidak dibersihkan lagi setelah demo berlangsung. Atau ekstrimnya, ada yang sampai merusak lingkungan, bentrokan, saling menyerang,  bahkan ada yang sampai membakar kendaraan pribadi orang lain yang di parkir disana. Namun terlepas dari itu, ada juga yang berdemo secara damai.

Let’s think again kepada para pendemo yang baik hatinya, ketika ingin mengemukakan pernyataan protes, ada baiknya jika kita mengingat dulu tujuan demo Anda itu untuk apa, sasarannya siapa, dan bagaimana hasil yang diinginkan.
Sebelumnya coba Anda bayangkan dulu, saat ini Anda adalah seorang Ayah atau Ibu yang sedang berada di pasar, lalu Anda hendak memutuskan untuk membeli sepatu bagi anak Anda. Tetapi, sepatu yang ia inginkan itu tidak sama dengan sepatu yang Anda pilih. Pertama, karena harga sepatunya tidak sesuai dengan kondisi keuangan Anda, dan yang kedua sepatunya tidak sesuai dengan kebutuhannya sekarang. Ia ingin sepatu Boot untuk bepergian, sedang yang ia butuhkan saat ini adalah untuk sekolah. Lalu ia protes ingin sepatu Boot pilihannya yang harus Anda beli saat itu. ‘Aksi’ protesnya dilancarkan dengan marah-marah  bersikeras tidak mau membeli sepatu pilihan Anda, menangis, membanting-banting semua sepatu yang berada dihadapannya, mengeluarkan beberapa sepatu tersebut ke luar toko, dan sebagainya. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan terhadap aksi protes tersebut? Apakah akan memenuhi permintaannya? Apakah akan merangkulnya meski ia sedang dalam puncak marahnya? Saya pribadi, untuk melihat insidennya saja sudah ikut jengkel, apalagi membayangkan menjadi ibunya yang berada disana. Kecil kemungkinan orang tua tersebut memenuhi permintaan anaknya. Tapi ketika si anak protesnya dengan wajar, mengemukakan penapatnya secara halus, mengeluarkan alasannya dengan sopan, tidak sampai marah-marah, apalagi sampai membanting-banting sepatu di toko dan semua hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri dan tujuannya membeli sepatu, pasti akan ada titik temu. Protesnya dijadikan bahan pertimbangan keputusan orang tua tersebut, dan bisa menghasilkan solusi. Entah itu orang tua tersebut membeli dulu sepatu pilihannya, lalu berjanji akan membelikan sepatu pilihan anaknya di waktu mendatang, atau kembali mencari sepatu yang menurut mereka berdua cocok dan sepakat.

Nah, begitu juga halnya dengan demo, ketika berdemo hanya untuk meramaikan jalan, mengotori jalan, meluapkan rasa marah dan sebagainya, Anda hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja. Kenapa? Karena protes Anda kecil kemungkinan untuk didengar, apalagi sampai dijadikan bahan pertimbangan. Bukankah tujuan protesnya itu agar suatu wacana dipertimbangkan kembali sebelum diputuskan? Lalu, jika kita berdemo seperti itu, apakah tindakan protes kita akan didengar? Saya pikir tidak. Bukan karena demonya yang salah. Bukan orang atau pihak yang berhak memutuskan sebuah wacana yang salah dan bukan pula topik yang di-demo-kan-nya yang salah, tapi cara mengemukakan pendapat anda dalam kategori protesnya yang kurang tepat.

Untuk itu, mulai saat ini, mari kita berdemo lebih anggun, lebih sopan, dan lebih halus. Agar demo kita dalam mengemukakan alasan setuju atau tidak terhadap suatu wacana kebijakan yang akan segera diputuskan, sedikit banyaknya bisa menjadi bahan pertimbangan. Namun, jika masih saja anarki, pasti Anda hanya sedang menggunakan emosi Anda saja. Sifat bijak yang ada dalam pikiran Anda, tidak Anda ikut sertakan. Aksi seorang anak kecil tadi terhadap orang tuanya saja berpeluang kecil untuk didengarkan, apalagi ini demo -masal- yang sebenarnya selain dari isi tersebut, kita sedang menyampaikan suatu pesan lain lewat bahasa non-verbal. Yaitu “Pa, yang mwempunyai pikiran seperti itu bukan hanya saya saja, tapi seribu orang (jika jumlahnya sama)  ini pun berpikiran yang sama. Jadi tolong agar pandangan kami ini dijadikan bahan pertimbangan.” Jika bahasa non-verbalnya seperti itu didukung dengan kata-kata dan cara yang baik, bisa dibayangkan bukan apa yang akan terjadi? Setidaknya jika demo kita tidak berpengaruh banyak pun, kita akan dihormati. Ayah, Kakak, Ibu, mari lestarikan demo dengan cara yang lebih terhormat. J

About this blog

Statistik Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

The famous

Termasuk di dalamnya