Lomba makan kerupuk, balapan karung, lomba joget pake sarung, takol kendi (lomba memukul kantong air dengan jarak ± 6M di depan, dengan memakai penutup mata), balapan kelereng, taek jambe (berlomba-lomba memanjat batang pohon palem, membawa barang yang digantung di atasnya dengan batang yang sudah dilumuri pelumas sebelumnya), lomba makan nasi, dan lomba-lomba lainnya. Semua daerah serempak merayakan atau mengadakan perlombaan-perlombaan sebagai tanda suka cita karena bertambahnya usia kemerdekaan negara tercinta kita ini.

Saking suka cita-nya, pada waktu Soeharto menjabat sebagai Presiden RI, bayi-bayi yang lahir tepat pada tanggal 17 Agustus mendapatkan hadiah..! (Wow!) eh, benerean loh..! itu terjadi di daerah aku. Jadi, hanya mereka yang lahir pada Tahun 1980-an dan tanggal 17 Agustus sajalah yang merasa beruntung. Bayangkan saja, bayi-bayi yang baru lahir sudah dapat ampau?! Keren…!!! Pada ngiri ya? Hehe sama aku juga ngiri. Tapi sayangnya, momen itu terjadi ketika aku belum lahir. Lebih tepatnya 8-10 Tahun SL (Sebelum Lahir).

Tapi tenang kawan, yang ngiri bukan hanya kita saja yang lahir Tahun 1990-an, kakak-kakak kita terdahulu juga pasti ngiri. Yaitu mereka yang lahir selain pada tanggal 17 Agustus. Dan bias dipastikan yang paling ngiri itu mereka yang lahir pas tanggal 16 atau 18 Agustus. Wah… ngenes itu mah..!!! haha “udah, kamu masuk lagi Besok keluarnya..!! ayo masuk! Biar dapet hadiah..!!!” mungkin itu permintaan hati si ibu pada anaknya yang lahir tanggal 16 Agustus. Atau “ kenapa kamu keluar sekarang sih??!! Tau gitu mah kemarin aja. Telat, AAAAHHH… Telat..!!! kalo kamu keluar kemarin, pasti dapet hadiah..!!!” ucap si ibu pada anaknya yang lahir tanggal 18. Hahahaha.. ekstrim banget ya?!
Tahu tidak? Pernyataan-pernyataan tersebut gara-gara HADIAH. Untuk itu, pemberian hadiah kepada bayi-bayi “istimewa” telah dihapuskan. Dikarenakan menimbulkan kecemburuan sosial dan kekerasan dalam mengurus anak (?). Penghapusan hadiah tersebut juga dikarenakan melonjaknya angka bayi yang lahir diakibatkan adanya program keluarga berencana melahirkan bayi tanggal 17 Agustus yang dicanangkan oleh inisiatif  masyarakat setempat sendiri (??), hingga para bidan dan dokter atau yang biasa disebut paraji/indung beurang/dukun beranak. Mereka kewalahan oleh musim lahir yang mendadak tersebut (????? –sebaiknya diabaikan saja) haha ngaco!! But over all, alasan kenapa pemberian hadiah tersebut tidak continue sampai sekarang, adalah karena anggaran!! Bisa dibayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan? Lalu berapa ratus kali pendemo akan protes? Dan berapa kali teroris akan bertindak? Bisa-bisa Negara ini hancur karena terpecah belah… Dramatik? Ya, itu kan pahitnya, kalo manisnya mah buat aja kisahnya sendiri. Hehe.. Okeh cukup. Kita akhiri Fantasy masa lalunya sampai disini. Baik, tepat pukul 10.46 WIB 68 Tahun yang lalu, Proklamator Negara Indonesia Bapak Ir. Soekarno dan Moh. Hatta mengumumkan bahwa kita telah bebas dari penjajahan. Tidak akan ada lagi kerja paksa, tidak akan ada lagi perbedaan hak, tidak akan ada lagi monopoli dalam segala hal, tidak akan ada lagi yang akan memeras kita. Ayah kita, Bapak pertama Bangsa Indonesia pada waktu itu menyatakan lewat Proklamasi, bahwa mulai saat itu semuanya berakhir. Dan secara tidak langsung, mulai saat itu juga perjuangan baru dimulai.

Yang biasanya menerima perintah, sekarang harus membuat kebijakan sendiri. Yang biasanya diatur, sekarang harus disiplin sendiri. Yang dulunya dieksploitasi dalam berbagai bidang, sekarang harus mengelola sendiri. Plus minusnya, jika dulu penjajahan membuat kita bodoh, dikekang, dan dieksploitasi, tetapi hanya ‘sebatas’ itu.kita tidak perlu menghawatirkan atau memikirkan solusi atas masalah yang muncul. Karena kita tidak diperintahkan untuk berpikir, tapi untuk bekerja. Sedang sekarang, kita bebas sebebas-bebasnya, bebas sekreatif-kreatifnya dan bebas semau kita, mau dengan cara seperti apa membangun negeri ini, karena kita sudah menjadi pelaksana. Sehingga permasalahan yang muncul, kita sendiri yang harus memecahkannya. Sederhananya, dulu simpel tapi terbelakang, sekarang rumit tapi kritis dan sedikit lebih di depan. Hingga ketika kita belum mempunyai kwalitas untuk memecahkan masalah tersebut, yang ada hanya lingkaran-lingkaran masalah tak berujung. Untuk itu, hanya pribadi-pribadi yang terus mau belajar saja yang bisa menarik lurus lingkaran masalah tersebut. Jadi, bukan hanya pelajar saja yang wajib belajar saja kalau begitu, karena pelaku pemerintahan bukanlah pelajar, benar kan? Tetapi mereka yang termasuk dalam struktur Pemerintahan yang memang harus lebih banyak belajar, karena mereka yang menjadi roda Pemerintahan. Maju atau mundur, berkembang ke depan atau ke belakang, dominan mereka yang menentukan.
Lingkaran-lingkaran masalah yang bermunculan sekarang, adalah indikasi bahwa masih banyak pelaku Pemeintahan yang kurang atau bahkan tidak terus belajar. Seperti halnya korupsi, adalah indikasi bahwa si pelaku menuntut dibayar lebih, tanpa memantaskan diri, mempertinggi kualitas untuk dihargai atau dibayar lebih. Dan bukankah cara untuk mempertinggi kualitas adalah dengan cara belajar? Dengan belajar dan berfikir kita bisa lebih banyak mengetahui dan mengerti akan suatu dan banyak hal. Tapi, tidak menutup mata bahwa di sisi lain memang masih lumayan banyak para pelaku Pemerintahan yang lurus, yang terus belajar dan yang mempunyai kualitas sebagai pelaku Pemerintahan. Sebab jika bukan karena mereka yang terus mau belajar memantaskan diri serta meninggikan kualitas, apakah Negara kita akan mencapai usia 68 Tahun seperti sekarang? Tentu saja tidak. 68 Tahun inilah yang menjadi bukti adanya mereka. Yuk ucapkan terima kasih kepada mereka.

Sebagai generasi muda, belajar merupakan sebuah kewajiban mutlak. Bukan mempelajari pelajaran-pelajaran yang diajarkan di bangku sekolah, tetapi lebih kepada terus belajar membaikkan pribadi kita serta belajar di bidang yang sedang kita geluti dan sukai. Jika engkau sedang bergelut di bidang ekonomi, teruslah belajar hingga menjadi pelaku ekonomi yang berkualitas tinggi. Jika engkau sedang bergelut di bidang keilmuan, teruslah belajar hingga menjadi cendikiawan besar yang bijak. Jika engkau menyukai pancing memancing, cobalah untuk mulai membuka atau mengelola ternak perikanan. Dan jika engkau menyukai seni, jadilah ahli seni yang baik dan berkualitas. Karena dengan begitu, kesuksesan kita akan ikut mengharumkan dan memajukan Negeri ini. Kita juga akan ikut berperan aktif dalam membangun Negeri. Hingga bidang-bidang EPOLSOSBUDHANKAM (Ekonomi, POLitik, SOSial, BUDaya, pertaHAnaN, KeAManan) dapat berjalan seimbang, beriringan. “Ada si A pelaku ekonomi yang hebat, ada si B yang cakap di bidang politik, ada si C yang ahli di bidang sosial, ada si D pakar di bidang budaya dan ada si E yang sangat tangguh di bidang pertahanan dan keamanan. Semuanya memiliki jiwa yang baik dan pribadi yang mengagumkan. Sehingga rakyat pun merasa aman, nyaman dan terkendali..” haaaah… indah bukan jika Bumi Pertiwi kita seperti itu?!

Lalu bagaimana dengan keadaan Negeri kita sekarang? Bukankah bobrok akhlaknya? Semakin kacau pribadinya? Semakin jauh minatnya terhadap ilmu? Lalu apa yang harus kita lakukan?

Sahabatku, polemik-polemik tadi memang nyata. Dan itulah masalah hari ini (sekarang). Tetapi, setelah hari ini bukankah masih ada hari esok (masa depan) yang belum pasti dan penuh dengan harapan? Dan besok giliran kita yang akan mengemban estafet pelaku pemerintahan. Baik di bidang struktur atau dalam bidang EPOLSOSBUDHANKAM-nya. Karena itulah, mari kita belajar lebih giat dan bekerja lebih keras, agar besok ketika masanya kita sedang membangun Negeri, bisa lebih baik daripada hari ini. Mari menuju Bumi Periwi yang indah untuk kita semua. Mari pelajari semua cara yang membuat Negara-Negara berkembang menjadi maju, lalu kita praktekan cara tersebut di sini. Awalnya besar kemungkinan kita akan dibayar minim atas usaha dan kemampuan maksimal kita. Tapi ketahuilah hal itu bukan karena kecilnya penghargaan yang dimiliki Bangsa kita, tapi karena cukup minim pula anggaran Negeri kita ini dan tentu saja ditambah tikus dimana-mana. Namun, ketika kita bersabar dan terus membangun sampai Negeri ini besar, kuat, maju serta sampai bersih dari tikus-tikus, nantinya kita sendirilah yang pertama kali akan merasakan kebesaran, kekuatan dan kemajuannya.

Jadi, siapa yang akan melangkah bersamaku, membangun Negeri ini dengan terus belajar tanpa henti? Ayo sini raih tanganku.
17 Agustusan sekarang, mari kita nikmati dengan cara yang sedikit berbeda. Sahabatku, mari berjuang, mari belajar. Salam empat lima!


Jika sekarang berdemo karena BBM naik, pasti sudah basi. Kenapa basi? Karena BBM-nya sendiri sudah diputuskan naik 44 % dari harga biasanya beberapa pekan lalu. Yang namanya berdemo itu sebelum suatu wacana diputuskan, jika berdemo setelah wacana diputuskan, lucu namanya itu. Ia bukan mau demo, tapi mau mengeluh. Karena tulisan ini bukan untuk menyuruh demo BBM naik, jadi tulisanku ini tidak akan basi. J silahkan lanjutkan.
DE-MO. Jika kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti demo adalah sebuah kendaraan beroda 3 mirip bemo. Demo. (hah?) Itu berarti kata yang kita maksud disini bukan demo, tapi Demonstrasi yang menurut KBBI adalah [n] (1) pernyataan protes yang dikemukakan secara masal; unjuk rasa; mereka berbondong-bondong mengadakan- - menentang percobaan nuklir; (2) peragaan atau pertunjukkan tata cara melakukan atau mengerjakan sesuatu; -pencak silat perlu diadakan guna memperoleh bibit-bibit pesilat yang baik. Namun mungkin karena kata Demonstrasi terlalu panjang untuk diucapkan, hingga kata Demo yang lebih singkatlah yang mewakili arti Demonstrasi yang berkembang di masyarakat luas. Meski jika diusut dari artinya, perwakilan kata Demo atas Demonstrasi jauh sekali. Tapi karena sudah terlanjur terwakili, ya sudah kita gunakan kata Demo saja untuk mewakili arti Demonstrasi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa pengertian kalimat “Demo BBM naik” berarti pernyataan protes yang dikemukakan secara masal tentang kenaikan BBM.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa yang namanya demo itu pasti dilakukan sebelum suatu wacana diputuskan. Itu berarti bisa ditarik kesimpulan bahwa Demo adalah suatu pernyataan protes yang dikemukakan secara masal, dilakukan sebelum suatu wacana ditetapkan atau diputuskan, dan ditujukan sebagai bahan pertimbangan atas keputusan tersebut. Namun dewasa ini, orang-orang berdemo cenderung melupakan tujuan dari berdemo itu sendiri (bahan pertimbangan keputusan), hingga mereka berdemo secara anarki. Dan hampir sudah menjadi hal yang lumrah demo anarki terjadi di tiap daerah. Bahkan ada sebagian orang, ketika disebut kata demo, yang terbayang adalah aksi protes anarki. Termasuk saya. Minimalnya demo itu membakar ban di jalan, menghambat laju lalu lintas, merusak sarana, mengotori jalan dengan sampah-sampah yang tidak dibersihkan lagi setelah demo berlangsung. Atau ekstrimnya, ada yang sampai merusak lingkungan, bentrokan, saling menyerang,  bahkan ada yang sampai membakar kendaraan pribadi orang lain yang di parkir disana. Namun terlepas dari itu, ada juga yang berdemo secara damai.

Let’s think again kepada para pendemo yang baik hatinya, ketika ingin mengemukakan pernyataan protes, ada baiknya jika kita mengingat dulu tujuan demo Anda itu untuk apa, sasarannya siapa, dan bagaimana hasil yang diinginkan.
Sebelumnya coba Anda bayangkan dulu, saat ini Anda adalah seorang Ayah atau Ibu yang sedang berada di pasar, lalu Anda hendak memutuskan untuk membeli sepatu bagi anak Anda. Tetapi, sepatu yang ia inginkan itu tidak sama dengan sepatu yang Anda pilih. Pertama, karena harga sepatunya tidak sesuai dengan kondisi keuangan Anda, dan yang kedua sepatunya tidak sesuai dengan kebutuhannya sekarang. Ia ingin sepatu Boot untuk bepergian, sedang yang ia butuhkan saat ini adalah untuk sekolah. Lalu ia protes ingin sepatu Boot pilihannya yang harus Anda beli saat itu. ‘Aksi’ protesnya dilancarkan dengan marah-marah  bersikeras tidak mau membeli sepatu pilihan Anda, menangis, membanting-banting semua sepatu yang berada dihadapannya, mengeluarkan beberapa sepatu tersebut ke luar toko, dan sebagainya. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan terhadap aksi protes tersebut? Apakah akan memenuhi permintaannya? Apakah akan merangkulnya meski ia sedang dalam puncak marahnya? Saya pribadi, untuk melihat insidennya saja sudah ikut jengkel, apalagi membayangkan menjadi ibunya yang berada disana. Kecil kemungkinan orang tua tersebut memenuhi permintaan anaknya. Tapi ketika si anak protesnya dengan wajar, mengemukakan penapatnya secara halus, mengeluarkan alasannya dengan sopan, tidak sampai marah-marah, apalagi sampai membanting-banting sepatu di toko dan semua hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri dan tujuannya membeli sepatu, pasti akan ada titik temu. Protesnya dijadikan bahan pertimbangan keputusan orang tua tersebut, dan bisa menghasilkan solusi. Entah itu orang tua tersebut membeli dulu sepatu pilihannya, lalu berjanji akan membelikan sepatu pilihan anaknya di waktu mendatang, atau kembali mencari sepatu yang menurut mereka berdua cocok dan sepakat.

Nah, begitu juga halnya dengan demo, ketika berdemo hanya untuk meramaikan jalan, mengotori jalan, meluapkan rasa marah dan sebagainya, Anda hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja. Kenapa? Karena protes Anda kecil kemungkinan untuk didengar, apalagi sampai dijadikan bahan pertimbangan. Bukankah tujuan protesnya itu agar suatu wacana dipertimbangkan kembali sebelum diputuskan? Lalu, jika kita berdemo seperti itu, apakah tindakan protes kita akan didengar? Saya pikir tidak. Bukan karena demonya yang salah. Bukan orang atau pihak yang berhak memutuskan sebuah wacana yang salah dan bukan pula topik yang di-demo-kan-nya yang salah, tapi cara mengemukakan pendapat anda dalam kategori protesnya yang kurang tepat.

Untuk itu, mulai saat ini, mari kita berdemo lebih anggun, lebih sopan, dan lebih halus. Agar demo kita dalam mengemukakan alasan setuju atau tidak terhadap suatu wacana kebijakan yang akan segera diputuskan, sedikit banyaknya bisa menjadi bahan pertimbangan. Namun, jika masih saja anarki, pasti Anda hanya sedang menggunakan emosi Anda saja. Sifat bijak yang ada dalam pikiran Anda, tidak Anda ikut sertakan. Aksi seorang anak kecil tadi terhadap orang tuanya saja berpeluang kecil untuk didengarkan, apalagi ini demo -masal- yang sebenarnya selain dari isi tersebut, kita sedang menyampaikan suatu pesan lain lewat bahasa non-verbal. Yaitu “Pa, yang mwempunyai pikiran seperti itu bukan hanya saya saja, tapi seribu orang (jika jumlahnya sama)  ini pun berpikiran yang sama. Jadi tolong agar pandangan kami ini dijadikan bahan pertimbangan.” Jika bahasa non-verbalnya seperti itu didukung dengan kata-kata dan cara yang baik, bisa dibayangkan bukan apa yang akan terjadi? Setidaknya jika demo kita tidak berpengaruh banyak pun, kita akan dihormati. Ayah, Kakak, Ibu, mari lestarikan demo dengan cara yang lebih terhormat. J


Bosan nomor togel tak pernah tembus lagi? Atau nomor togel Anda sama sekali belum pernah tembus? Niat jadi Bandar togel? Mau tahu caranya? Anda bisa langsung jadi bandar togel dalam 5 MENIT ! mau tahu caranya?

Hanya dalam beberapa langkah di bawah ini, dapat dipastikan Anda bisa jadi bandar besar!!!

Langkah pertama, berdo’a. Tidak ada kegiatan apapun yang diawali tanpa do’a, semuanya akan lebih mudah jika diawali dengan do’a. Coba saja.

Langkah kedua, cari kerja. Namanya juga cari kerja, bukan cari uang. Jadi, kerjakan saja apapun yang bisa Anda kerjakan, toh akhirnya pasti Anda akan digaji. Sehingga pada akhirnya Anda bisa dapat uang.

Langkah ketiga, rajin menabung. Setelah Anda mendapatkan uang dari hasil kerja, tabungkan semuanya, atau separuhnya agar uang Anda cepat terkumpul.

Nah, setelah rajin menabung dan uang Anda terkumpul, lalu anda kaya raya dengan uang tabungan tersebut,  Anda bisa memutuskan untuk menginvestasikan tabungan Anda. Apakah mau setia dengan niat awal; diinvestasikan jadi bandar? Atau beralih pada niat baik; buka usaha, atau tetap bekerja dan terus menabung. Toh selama ini juga Anda telah berusaha dan bekerja keras kan? :)

Sebenarnya, jadi bandar togel  kuncinya cuma satu. Yaitu banyak uang atau nggak turunan kaya raya. Dan faktanya, hamper seluruh para pemain atau pemasang togel bukan dari kalangan pengusaha. Mana ada sih pengusaha yang rela uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, menahan setiap keinginan, -ingin beli baju, ditahan. Ingin beli gadget baru, ditahan. Sampai ingin pipis pun ditahan. :D gak gitu juga kali ya?! Hehe..intinya menahan semua keinginan yang tak perlu, dan yang tidak ada hubungannya dengan mimpi yang sedang ia bangun-  lalu tiba-tiba mereka menginvestasikan seluruh uangnya untuk jadi bandar togel?! TIDAK MUNGKIN..!!
Agan-agan pemain atau pemasang togel yang kecilan, atau yang masih kelas teri, biasanya mereka yang hanya mengisi waktu luang saja dengan peruntungan yang menurut mereka menggiurkan. Sedang yang kelas kakapnya, mereka yang sudah kecanduan untuk pasang togel, hidup penasaran dengan angan-angan kemenangan sampai menghalalkan bebagai cara untuk pasang taruhan. Jadi, pasti nggak  ada yang dari kalangan pengusaha. Dan sudah jadi rahasia umum kan banyak orang yang habis hartanya karena hal seperti ini? :)

Selain itu mereka juga rentan terhadap frustrasi, stress sampai derpesi. Alasannya, karena mereka sangat berharap untuk menang, sedang kenyataannya hampir selalu tidak pernah sinkron dengan impian, alias kalah atau nomornya tidak tembus..! :D Hingga akhirnya banyak kecewa, lalu frustrasi.
Masih niat lanjut jadi pemasang, atau bandar togel? :)

Sudahlah, hari gini masih sibuk main togel? Gali kubur ajah gih..?! haha
Orang lain sudah pada sibuk ngurusin cara hijrah ke Bulan, dirimu masih berkutik dan bergantung pada hal yang tak pasti. Anda kan mau bahagia? Lalu kenapa masih menggantungkan harapan pada hal yang tak pasti? Yang pasti-pasti sajalah. Allah juga akan memberi rizki, jika kita sudah berusaha. Sudah, pulang sana! Lalu isi waktu luang Anda dengan hal yang lebih positif. Itu pun jika Anda  mau bahagia. Jika tidak mau, ya monggo.
:)

Eh, terima kasih ya telah sudi membaca celotehanku…

About this blog

Statistik Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

The famous

Termasuk di dalamnya